STAY AWAY
Part 3
Lee Ji Eun
Park Jiyeon
Jang Wooyoung
**
PLAAAK ! tamparan yang cukup keras melayang di pipi chubby
Wooyoung. Yah. Ji Eun menampar Wooyoung setelah terbujur kaku.
“Kau...kau...kau kenapa mencium ku
haah ?! kau tak punya etikaaa ?!”
“anyio, tidak seperti itu,”
“sudah cukup ! aku tidak ingin
mendengar alasanmu ! mulai saat ini, aku benar-benar sangat BENCI PADAMU !!!”
“Ji Eun-aaah,”
Ji Eun melepaskan jaket Wooyoung dan
berlari sekencang-kencangnya. Marah, kesal, Shock campur menjadi satu.
Perhatian Wooyoung ke Ji Eun memang membuat Ji Eun sedikit luluh, tapi dengan
ciuman? Ji eun sangat tidak suka ! Ji Eun berlari ke apartement dengan menahan
semua amarahnya.
Sesampai di apartement, Ji Eun langsung
membaringkan tubuhnya untuk tidur. Tapi, itu sia-sia saja. Ji Eun tidak bisa
tidur. Sampai pukul 04.00 a.m Ji Eun tetap terjaga. Apakah Ji Eun memikirkan
kejadian waktu di taman tadi ? entah.
**
Sampai pagi tiba, Ji Eun masih
memikirkan kejadian kemarin. Bahkan emosinya harus membut Jiyeon ketakutan.
“Ji Eun-aah, apa kemarin tidur mu
tak nyenyak ? kantung matammu benar-benar besar,”
“Anyi ! sudahlah, cepat kita
berangkat ke lokasi syuting,”
“A..a..a..rasoo,”
**
Sesampainya di lokasi syuting, semua
sudah siap, hanya tinggal melakukan pengambilan gambar saja.
“Ji eun, Wooyoung. Ready, Go !”
Syuting dimulai.
Tapi, sepertinya syuting hari ini benar-benar buruk.
JI Eun dan Wooyoung terlihat sangat canggung dan lebih parahnya lagi sutradara
sepertinya menyadari semua itu sehingga ia lebih sering marah-marah.
“YAAA ! Ji Eun. Hari ini kau kenapaaa
?!”
“Anyio, hanya saja aku merasa capai,
sutradara,”
“AISSH JINJJA. Kau juga Wooyoung,
hari ini kenapa kau tidak agresif ? padahal kau selalu agresif kepaa Ji Eun?”
“Aku juga kecapai an, Ahjussi.”
“Capaaai ? aku juga capai ! ah
hentikan saja Syuting hari ini. Kita lanjutkan besok saja. Dan untuk kalian
berdua, Ji Eun dan Wooyoung. Beristirahatlah yang cukup, kita besok mulai
syuting lagi. Mengerti ?”
“Araso,” Jawab Wooyoung dan Ji Eun
serempak.
**
Saat akan pulang, tiba-tiba Wooyoung
memanggil Jiyeon.
“Jiyeon !”
“Ah, ne ? waeyo, oppa ?” Jiyeon
sangat senang karena dia dipanggil oleh Wooyoung.
“Kau maukan pulang bersama ku ?
ajaklah Ji Eun juga,”
“Pulang bersama, oppa ? jinjja ? NE
! aku akan mengajak Ji Eun,”
**
Di dalam mobil, Ji Eun harus menahan
kesabarannya. Kalau saja bukan Jiyeon yang meminta, dia tidak akan mau pulang
bersama Wooyoung apalagi naik mobilnya Wooyoung.
**
Sesampainya di depan apartement, Ji
Eun meminta ijin kepada Jiyeon untuk berjalan-jalan sebentar.
“Jiyeon, aku mau jalan-jalan ke
taman. Jaga apartement,”
“Kau mau jalan-jalan lagi? Kau tak
bosan ?”
“Anyi.”
“Yasudah aku jaga rumah saja.Ji Eun,
ucapkan terima kasih dulu kepada Wooyoung !!!” tapi Ji Eun sudah terlanjur
berjalan jauh, dan tidak mendengar apa yang dikatakan Jiyeon sama sekali.
Wooyoung melihat Ji Eun berjalan ke
arah taman bukan ke arah masuk apartement. Dengan cepat,Wooyoung mengejar Ji
Eun, tapi dengan cepat Jiyeon menarik tangan Wooyoung.
“Kau tidak mau mampir ke apartement
ku ?” tanya Jiyeon manis.
“Anyio. Gomawo,” Dengan tergesa-gesa
Wooyoung mengejar Ji Eun tapi lagi-lagi Jiyeon menarik tangan Wooyoung.
“Oppa, benarkah kau tak ingin mampir?”
“Ne,” Wooyoung gelisah mencari Ji
Eun yang mulai tak keliatahan batang tubuhnya.
“Oppa! Kau kenapa begitu khawatir ?
kau mengkhawatirkan, Ji Eun ?”
“Ne. Waeyo ?”
“Kau tak usah mengkhawatirkannya !”
Ucap Jiyeon keceplosan.
“Kau bicara apa, Jiyeon. Aku hanya
ingin mengejar Ji Eun !” Kali ini Wooyoung berhasil lolos dari tarikan tangan
Jiyeon.
Dengan suara lirih, Jiyeon berkata,
“Oppa-aah, Kajima,”
Tapi, Jiyeon tidak diam saja melihat
wooyoung dan Ji Eun akan berjalan-jalan berdua. Jiyeon mengikuti kemana
Wooyoung akan mengejar Ji Eun.
**
Setelah mencari-cari Ji Eun,
Akhirnya Wooyoung menemukannya. Wooyoung berhasil meraih tangan Ji Eun.
“Ji Eun-aah, Jika kau mau
jalan-jalan ke taman. Ajaklah aku,”
“Waeyo ?”
“aah Anyio,”
Kali ini, Ji Eun mau bejalan-jalan
di taman bersama Wooyoung meskipun Ji Eun masih marah atas apa yang terjadi
kemarin malam.
“Ji Eun, mianhae,”
“Mwo ?”
“Mianhae, aku mencium mu kemarin
malam,”
“aku sudah melupakan itu. Mianhae.
Aku mau balik ke apartement. annyeong”
Jiyeon yang mendengar
perkataan Wooyoung sangat shock. Dia tidak pernah berfikir bahwa ternyata
Wooyoung mencium Ji Eun. Dan kini Jiyeon tau, Wooyoung menyukai Ji Eun bukan
Dia. Ini membuat perasaan Jiyeon sedih lagi dan marah.
**
Sesampainya di apartement, Ji Eun
kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Jiyeon.
“Ji Eun, boleh aku bertanya sesuatu
?”
“Tentu. Mwo ?”
“Kau suka Wooyoung kan ?” DEG !
jantung Ji Eun berdegup kencang.
“Anyio. Aku tidak menyukai
Wooyoung,”
“Kalau begitu, jauhi Wooyoung !”
“Maksudmu apaa ? kau kan yang menyuruhku
melakukan acara reality show itu?”
“Yah, aku yang menyuruh mu itu,”
“Terus kenapa aku tidak boleh dekat
dengan Wooyoung ?”
“Kau boleh berdekatan dengan
Wooyoung saat syuting saja. Saat tidak syuting kau tidak boleh berdekatan
dengan Wooyoung. Mianhae Ji Eun, aku egois.”
“Kau benar-benar Fangirl yang freak
!”
“Ne, Waeyo ?!” bentak Jiyeon.
“Jiyeon ! aku melakukan semuanya
untukmu ! aku melakukan semua apa yang kau mau ! kali ini, aku benar-benar muak
denganmu ! terserah kau sajalah !”
“Ji Eun, aku tau aku egois. Mianhae.
Tapi aku sangat menyukai Wooyoung meskipun takdir tidak akan menyatukan kita !”
“Terserah kau saja ! aku muak
denganmu ! aku mau ke taman !”
“Kau mau ke taman untuk bertemu
dengan Wooyoung?”
“ANYIO ! aku tidak akan bertemu
Wooyoung !”
Lagi-lagi, Jiyeon mengikuti Ji Eun.
**
Saat di taman, Ji Eun kaget.
Ternyata Wooyoung masih ada di taman. Ketika melihat JI Eun, Senyum yang sangat
manis terpancar dari bibir Wooyoung.
“ji Eun, kau kesini karena ingin
bertemu denganku kan ?”
“Anyio,”
“Terus kau kenapa kesini ?”
“Moodku hanya sedang hancur saja.
Dan jalan-jalan di taman adalah obatnya.”
“Apakah aku juga obatmu, Ji Eun ?”
“Kau jangan bodoh. Mana ada orang
yang paling kubenci adalah moodboster ku.”
“Mianhae.”
Suasana kembali menjadi hening.
Sedangkan Jiyeon yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan amarahnya.
Ji Eun dan Wooyoung sama-sama diam.
Sampai Wooyoung menanyakan pertanyaan yang selalu membuat Ji Eun bingung.
“JI Eun-aah, kau jangan diam
begini,”
“Kenapa aku harus berbicara dnegan
orang yang aku benci,”
“Kau benar-benar benci padaku ?”
“NE !”
“Kau jangan begitu Ji Eun-aah ! aku
sangat menyukai mu ! perasaanku padamu tidak akan pernah pudar !”
“Aku juga menyukai mu, tapi itu
sebelum kau mecampakkanku 4 tahun lalu.
“kau masih mengingat kejadian itu ?”
“NE !”
“Mianhae Ji Eun. Dulu aku memang
sempat mencampakkanmu, selingkuh di belakangmu, dan bahkan membuat hati mu
sedih. Aku benar-benar minta maaf, kejadian itu berada di luar dugaanku,”
“Bagaimana bisa kejadian itu semua
berada diluar dugaanmu ? kau tak pandai berbohong Wooyoung,”
“Mianhaaaee. Ji Eun-aah, maukah kau
kembali kepadaku ? aku membutuhkanmu,”
“Aku tidak mau kembali padamu ! aku
tidak mau sakit karenamu untuk kedua kalinya dan aku juga tidak mau menyakiti
hati Jiyeon !”
“Jiyeon ? Jiyeon kenapa ?”
“Jiyeon menyukaimu ! dia hampir
pshyco karena menyukaimu!”
“Tapi, hatiku ini hanya untukmu Ji
Eun !”
“Sudah cukup ! aku tidak ingin
menyakiti Jiyeon ! aku sangat sayang padanya !”
“Tapi Ji Eun...”
“Cukup. Jika kau bertemu denganku
hanya ingin membicarakn ini, lebih baik aku tidak pernah bertemu dengan mu !”
“AKU SUKA PADAMU, JI EUN ! AKU TIDAK
SUKA PADA JIYEON ! ”
“Hentikaaaan !”
“JI EUN ! AKU MENYUKAIMU ! DAN AKU
YAKIN, PERASAANMU PADAKU JUGA SAMA ! KITA BERPACARAN SELAMA 5 TAHUN, TAK
MUNGKIN KAU BISA MELUPAKANKU SECEPAT INI !” DEG ! Ji Eun shock mendengar
perkataan Wooyoung. Sebenarnya, Ji Eun juga bingung dengan perasaannya Sendiri.
“Wooyoung ! hentikaaaaan ! Jiyeon
lebih menyukai mu daripada aku ! aku hanya ingin menghargai Jiyeon ! itu saja
!”
Jiyeon yang mendengar percakapan
antar Ji Eun dan Wooyoung itu sedikit kagum dengan sikap JI Eun. Kini Jiyeon
tau, sebenarnya Ji Eun sangat menyayangi Jiyeon sampai-sampai dia mau melakukan
vareality show itu. Jiyeon tidak pernah berfikir bahwa Ji Eun akan berbicara
seperti itu kepada Wooyoung. Kali ini, Jiyeon percaya bahwa Ji Eun memang teman
terbaiknya.
**
“Wooyoung, sebaiknya kau lebih
memilih Jiyeon daripada aku !”
“tapi aku tidak menyukai Jiyeon.”
Tanpa menjawab Wooyoung, Ji Eun berlari kembali ke apartement, tapi
karena Wooyoung berlari dengan cepat, Wooyoung dapat meraih tangan Ji Eun dan
langsung memeluk JI Eun.
“Ji Eun, kajima. Aku hanya
menginginkan kamu,”
Ji Eun hanya bisa berdiri dengan
kaku. Bukan kaku karena udara yang sangat dingin itu, tapi karena pelukan
Wooyoung yang membuat aliran darahnya itu berhenti.
**
Di sisi lain, Jiyeon yang awalnya
mulai percaya kembali kepada Ji Eun, kembali marah karena Wooyoung yang memeluk
Ji Eun. Dengan keras, Jiyeon berteriak.
“JI EUN ! KAU MENGINGKARI
JANJIMUUUUUUUU !”
Sambil menangis, Jiyeon kembali
pulang ke Apartement.
~to be continue~